Friday, October 12, 2007

Tingkatan Lokasi Terbang Paralayang


Wilayah Indonesia yang berbukit-bukit dan banyak pegunungan tinggi sangat potensial untuk perkembangan olahraga paralayang. Banyak tempat yang dapat digunakan untuk terbang, baik yang mudah dijangkau dengan kendaraan maupun yang harus ditempuh dengan jalan kaki. Tinggal memilih mana lokasi yang paling menarik dan menantang untuk diterbangi. Bagi beberapa kelompok penerbang, susahnya medan lepas landas tak menjadi persoalan meski harus berjalan kaki berjam-jam dan menggendong “pesawat” di punggungnya. Boleh jadi itulah yang justru dicari, berpetualang di darat kemudian dilanjutkan di udara. Kombinasi ini tentu menjadi paduan petualangan yang sangat mengasyikkan.
Pada umumnya lokasi-lokasi terbang ini merupakan daerah tujuan wisata yang sudah cukup terkenal seperti kawasan Perkebunan Teh di Puncak, Bogor; Gunung Banyak, Batu, Malang; Danau Maninjau, Bukit Tinggi; Gunung Bromo, Probolinggo; Gunung Batur, Bali; Matantimali, Palu, dan lain-lain. Lokasi-lokasi tersebut menawarkan berbagai tantangan sesuai tingkatan kesulitan masing-masing .

Secara umum lokasi terbang ini dapat dibedakan menjadi tiga kelas kesulitan yaitu: mudah (kelas I), sedang (kelas II) dan sulit (kelas III).Setiap penerbang yang akan terbang di lokasi-lokasi ini harus mengetahui betual batas-batas kemampuan terbangnya agar dapat terbang aman dan nyaman. Penentuan tingkat kesulitan ini lebih berdasarkan kondisi obyektif masing-masing lokasi penerbangan, seperti bagaimana kemiringan lereng lokasi lepas landas, jauh dekatnya lokasi lepas landas dan lokasi pendaratan, lokasi untuk pendaratan darurat, dan tentu saja kecenderungan kondisi angin dan awan yang berlangsung sehari-hari. Namun demikian tingkat kesulitan ini bisa saja meningkat, saat cuaca dan angin berubah drastis. Lokasi yang tadinya dikatakan mempunyai tingkat kesulitan I atau mudah dapat menjadi sulit dan membahayakan bagi penerbang paralayang.

Lokasi Terbang Kelas I (Mudah) antara lain: Puncak, Bogor. Bukit Toga, Sumedang. Gunung Banyak, Batu, Malang. Pantai Timbis, Nusa Dua, Bali. Bukit Kemuning, Karanganyar, Surakarta. Watukandang, Bojonegara, Merak.

Lokasi Terbang Kelas II (Sedang) antara lain: Bukit Kasur, Cipanas, Cianjur. Gunung Haruman, Garut. Gunung Guntur, Garut. Danau Maninjau, Bukit Tinggi. Sipiso-Piso, Danau Toba. Bukit Matan Timali, Palu. Bukit 15, Gunung Dempo, Pagar Alam. Pantai Candi Dasa, Bali. Gunung Batur, Bali.

Lokasi Terbang Kelas III (Sulit) antara lain: Gunung Gajah Mungkur, Wonogiri. Gunung Bromo. Pantai Air Manis, Padang. Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Gunung Merapi, Magelang. Gunung Merbabu, Magelang. (Gendon Subandono, Foto: Gendon Subandono)

Wednesday, January 18, 2006

Perlengkapan Olahraga Paralayang


Parasut Paralayang: Elang butuh sayap untuk terbang, penerbang paralayang butuh parasut untuk mengangkasa. Parasut paralayang diciptakan memang untuk lepas landas dari sebuah lereng bukit. Bentuk dan ukurannya jauh berbeda dengan parasut yang dipergunakan untuk terjun payung. Parasut paralayang berbentuk elips terdiri dari dua lembar kain terbuat dari bahan nylon ripstop berporositas nol dengan ketebalan sekitar 44 g/m2. Dua lembaran kain ini dihubungkan dengan lembaran tegak untuk mempertahankan bentuknya. Lembaran tegak yang disebut ribs ini membentuk sel-sel yang jumlahnya puluhan. Sisi depan (leading edge) yang disebut mulut sel menganga untuk jalan masuknya angin, sementara di sisi belakangnya (trailing edge) tertutup rapat, sehingga angin terperangkap dan menciptakan tekanan di dalam parasut. Tali-tali yang terbuat dari bahan kevlar menjulur ke bawah disatukan dengan tambat (riser) dan dihubungkan dengan karabiner di tempat duduk penerbang.
Terdapat tiga jenis parasut untuk masing-masing kemampuan penerbang yaitu: standard, perfomance, dan competition. Parasut jenis standard adalah parasut yang biasa digunakan untuk para penerbang pemula. Jenis ini mempunyai kestabilan lebih baik dibanding parasut setingkat di atasnya. Semakin tinggi tingkat kinerja parasut maka makin tinggi pula kemampuan yang harus dimiliki penerbang. Parasut Paralayang dibedakan pula sesuai ukurannya (XS, S, M, L, Dual/Tandem). Makin berat penerbangnya maka makin besar pula ukuran parasut yang dipakai.
Seperti pesawat terbang lainnya, parasut paralayang pun harus memenuhi standard kelayakan terbang. Setidaknya terdapat dua standar uji parasut paralayang yang diakui secara internasional yaitu: AFNOR dan G├╝tesiegel. AFNOR dikeluarkan oleh Asosiasi Layang Gantung Perancis dan Swiss (FSVL dan SHV). Sedang G├╝tesiegel dikeluarkan oleh Asosiasi Layang Gantung Jerman (DHV). Dengan adanya dua lembaga ini, tentu saja makin memudahkan orang yang berminat dalam olahraga ini memilih perlengkapan untuk dirinya yang paling aman dan sesuai keinginan.
Selain parasut, peralatan utama yang dibutuhkan seorang penerbang paralayang adalah seat harness (kursi penerbang), helmet, dan parasut cadangan. Perlengkapan tambahannya antara lain: kaos tangan, baju terbang, radio komunikasi/HT, Variometer (alat pengukur kecepatan vertical), GPS, dan Wind Meter (pengukur kecepatan angin). Asal tahu saja, harga peralatan komplit yang gres olahraga paralayang adalah sekitar 2000-3000 USD. Sedang harga second hand berkisar 500 – 1500 USD. (*)

Cara Mudah Mewujudkan Impian Terbang


Lepas landas dari lereng bukit, lalu melesat ke angkasa bebas. Berputar-putar seperti burung Elang, mengejar thermal. lalu ribuan meter tinggi, dan ratusan kilometer pun dijangkaunya. Padahal terbangnya hanya dengan memanfaatkan angin. Inilah olahraga paralayang atau paragliding, cara termudah bagi mereka yang memimpikan terbang bebas.

Menunggu Cuaca
Meskipun cuaca mendung dan sering turun hujan dan kabut di Kawasan Perkebunan Teh Gunung Mas, Puncak, Bogor, tak menyurutkan niat para “penunggang angin” yang ingin melepaskan hasratnya untuk terbang. Sudah sejak pagi mereka setia menunggu kesempatan terbang. “Wah kabutnya kok tebal banget, gak bisa terbang nih?” keluh salah seorang penerbang paralayang di atas Bukit 250 yang jadi lokasi lepas landas.
Dalam cuaca tak menentu pada musim hujan seperti sekarang ini, memang diperlukan kesabaran ekstra bagi para penerbang paralayang. Jika cuaca lagi tak bersahabat, bisa berjam-jam mereka harus menunggu cuaca ideal. Bahkan kadang-kadang setelah seharian menunggu, terpaksa pulang kembali ke rumah dengan log book terbang yang kosong karena gagal terbang. Sedikit rasa kecewa. Tetapi itu tak menjadi soal, karena masih ada hari esok! Para penerbang paralayang memang mempunyai prinsip lebih baik tidak terbang hari ini, dari pada memaksakan terbang hari ini, tetapi esok tak dapat terbang lagi!
Namun ceritanya akan jauh berbeda jika cuaca berubah cerah dengan hembusan angin yang ideal dari arah depan lereng. Dalam waktu singkat saja puluhan parasut warna-warni mengangkasa dan lalu lalang menghiasai langit di atas perkebunan teh. Inilah pemandangan yang hampir selalu dijumpai di akhir minggu, yang menimbulkan iri sekaligus decak kagum para wisatawan.
“Wah asyik banget tuh, bisa terbang seperti burung Elang,” ujar salah satu wisatawan yang berkunjung di kawasan Puncak. Kadang-kadang justru keheranan pun muncul dari mulut para pelancong yang baru pertama kali melihat paralayang. “Lho ada yang terjun payung, tetapi kok tidak terdengar suara pesawatnya?”
Olahraga paralayang memang mirip dengan olahraga terjun payung. Dua-duanya sama-sama menggunakan parasut, namun sebenarnya filosofi dua olahraga dirgantara yang berada di bawah naungan Federasi Aerosport Indonesia ini sangat jauh berbeda. Bagi peterjun payung, parasut yang digunakan lebih berfungsi sebagai alat penyelamat peterjun agar mendarat empuk saat menapaki bumi setelah jatuh bebas atau free fall. Sedang bagi penerbang paralayang, parasut yang digunakan meski pun tak bermesin namun mampu membawa penerbangnya terbang tinggi dan jauh - asal tahu saja, rekor dunia terbang jauh paralayang adalah sejauh 350 km.
Cara mengembangkan parasutnya pun berbeda, peterjun payung melompat dulu dari pesawat terbang baru mencabut parasutnya, sedang penerbang paralayang mengembangkan parasutnya ketika masih menginjak tanah di sebuah lereng bukit. “Gampang kok caranya, yang penting tekniknya benar,” celetuk David Teak.

Lereng dan Angin.
Konsep terbang Paralayang sangat sederhana tetapi mengagumkan, terbuat dari lembaran kain nylon yang dibentuk seperti sayap atau aerofoil yang dihubungkan oleh tali-tali untuk sebagai cantolan tempat duduk penerbang (seat harness). Dengan adanya gerakan saat melintasi di udara bebas maka lembaran kain tersebut menggembung menciptakan tekanan dan membentuk sayap yang akhirnya dapat diterbangkan.
Parasut paralayang adalah sebuah “pesawat terbang” yang melayang menggunakan prinsip-prinsip aerodinamika seperti halnya pesawat Boing yang berpenumpang ratusan orang itu. Bedanya penumpang paralayang sangat terbatas hanya satu atau dua orang saja. Kecepatan terbang tertingginya juga paling-paling hanya sekitar 50 km/jam. Paralayang juga merupakan pesawat berpenumpang paling ringan di dunia, kalau komplit berat lengkapnya hanya sekitar 8 s/d 15 kg. Karena saking ringan dan ringkasnya, pesawat ini sangat mudah di lipat dan digulung kemudian dimasukan ke dalam ransel. Siap digendong ke mana pun suka.
Untuk dapat lepas landas, seorang penerbang paralayang memerlukan sebuah lereng bukit yang rata dengan kemiringan sekitar 20 - 30 derajat, atau jika tak ada lereng, ditarik dengan mesin Winch di lapangan terbuka pun bisa.
Kecepatan angin ideal yang dibutuhkan sekitar 10 s/d 20 km jam. “Arah angin harus datang dari depan lereng. Kalau kecepatannya terlalu pelan paling hanya terbang meluncur, tetapi kalau terlalu kencang parasut tak bisa maju, malah-malah mundur karena terbawa angin,” jelas Lilik Darmono salah satu penerbang senior asal Magelang itu.
Peoses terbangnya sederhana. Sebelum terbang, parasut digelar dengan mulut-mulut sel (leading edge) menghadap angin dan sisi belakang (trailing edge) lebih dekat ke bibir lereng. Lembaran kain parasut, tali-tali, serta harnesnya lalu diperiksa, agar yakin bahwa perlengkapan terbang itu sudah betul-betul oke. Parasut sobek, tali kusut, atau karabiner bermasalah bisa berabe ! Masalah yang kecil di darat, bisa menjadi petaka sesaat setelah melayang di udara. Karenanya, pemeriksaan sebelum terbang atau pre flight check ini harus selalu dilakukan setiap saat oleh penerbang.
Proses berikutnya, penerbang pun bersiap-siap setelah helmet dan harness dipakai. Masing-masing tangan memegang tali kemudi dan riser depan, sementara riser tengah dan belakang dibiarkan menggantung di atas siku. Saat angin berhembus penerbang pun kemudian melangkah maju sambil menarik dan mengangkat riser yang dipeganngya. Dengan adanya sedikit hentakkan ini, parasut mulai terangkat, sel-selnya yang menganga itu langsung menelan angin, dan akhirnya mengembang sempurna di atas kepala.
Setelah parasut mengembang sempurna dan yakin tak ada yang kusut, penerbang meneruskan larinya ke arah bibir lereng. Dengan adanya gerak maju dan adanya hembusan angin yang menghantam lereng, parasut kemudian terangkat dan membawa penerbangnya meluncur ke angkasa. Kecepatan angin dan Kemampuan mengendalikan parasut, merupakan kombinasi yang sangat menentukan apakah penerbang akan tetap terus melayang atau harus siap-siap mendarat.
Terdapat dua sumber angin naik yang dapat dimanfaatkan penerbang paralayang agar dapat terbang tinggi dan jauh yaitu naikan dinamik (dynamic lift) dan naikan thermal (thermal lift). Naikan dinamik adalah angin yang naik karena menabrak lereng bukit, semakin kencang angin yang datang semakin besar pula kekuatan angin naiknya. Sedang naikan thermal adalah angin naik atau gelembung udara naik karenanya adanya pemanasan permukaan bumi oleh Matahari.
Sumber-sumber ini biasanya dijumpai di permukaan yang kering seperti ladang, lapangan, jalanan, dan perumahan, karena permukaan bumi ini gampang terpanaskan. Tanpa dua sumber ini tak mungkin seorang penerbang paralayang dapat bertahan lama terbang di angkasa bebas. Penerbang paralayang harus dapat membaca medan terbangnya yang berupa perbukitan. Saat ada angin naik, di sisi lainnya terdapat angin putar atau yang biasa disebut rotor atau turbulensi. Di situlah penerbang harus waspada jangan sampai ditelan rotor atau angin putar itu.
Melayang memang asyik, bumi yang indah jadi lebih indah saat dilihat dari ketinggian. Tetapi keasyikkan ini tentu saja tak membuat lupa bahwa penerbang pun harus mendarat di tempat yang aman setelah terbang berjam-jam. Lapangan terbuka yang bebas dari pepohonan tinggi dan rintangan lainnya merupakan lokasi pendaratan paling aman.

Terbang Mengasyikan !
Apa sih asyiknya terbang dengan paralayang? Pertanyaan sederhana tetapi jawabannya bisa bermacam-macam, seperti yang diungkapkan Dimas Bayu (16 th). “Seneng aja. Saat melayang-layang di angkasa itulah yang paling mengasyikkan, aku bisa terbang seperti burung. Ada kesunyian yang berbeda yang aku rasakan,” ungkap siswa kelas 1 SMA Dwi Warna Parung yang baru mengantongi 20 kali terbang itu.
“Buat saya yang paling nikmat adalah saat menjelang lepas landas, begitu kaki lepas dari tanah kita seperti masuk ke kehidupan lain. Begitu juga saat mendarat empuk setelah melayang-layang, rasanya plong. “ Cerita Etey seorang karyawati bank swasta yang empat bulan ini rajin wara-wiri ke Puncak untuk menikmati paralayang.
Tetapi lain lagi perasaan yang diungkapkan Ade Satari salah seorang atlet paralayang dari DKI Jakaara, ”Rasanya puas saat bisa mengejar thermal dan terbang setinggi mungkin, apalagi dapat terbang jauh atau cross country dan mendarat berpuluh-puluh kilo meter dari titik awal penerbangan.”
Menurut Hertriono Kartowisastro, Ketua Pordirga Layang Gantung Indonesia PB FASI, olahraga paralayang adalah olahraga dirgantara yang mempunyai tantangan tak terbatas. Ketergantungan dengan wahana lain juga sangat kecil. “Paling murah dan sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi wisata dirgantara, mengingat hampir semua tempat terbang paralayang merupakan lokasi wisata,” ungkapnya.
“Bagi yang sekadar ingin berekreasi, paralayang merupakan sarana pelepas ketegangan rutin yang cukup menantang, tetapi bagi yang ingin mengejar prestasi kesempatannya masih terbuka luas, apalagi olahraga ini sudah dipertandingkan dalam PON XV yang lalu,” lanjut Hertriono yang pernah mencoba segala olahraga dirgantara tersebut.

Siapa Saja Boleh Terbang?
Olahraga paralayang adalah olahraga dirgantara yang sangat mudah dan cepat untuk dipelajari. Alat yang digunakan juga sangat minimal, tak ada instrumen yang khusus dipelajari sebelum terbang. Perlengkapan utamanya terdiri dari parasut paralayang, seat harness, dan helmet. Perlengkapan lainnya antara lain sarung tangan, baju terbang, radio komunikasi, dan variometer.
Saat awal belajar tak perlu harus mempunyai alat-alat tersebut terlebih dahulu, karena biasanya sekolah atau klub pendidikan paralayang sudah menyediakannya untuk para peminat. Tentu saja ada dengan merogoh kantong untuk mengganti biaya penyusutan perlengkapannya.
Keasyikkan pasti, keamanan dan kenyamanan juga sangat penting. Di samping keberanian setiap penerbang juga harus memahami dan melaksanakan prosedur keselamatan. Ada tiga hal pokok yang harus dipahami oleh setiap penerbang agar dapat terbang dengan aman, yaitu: cuaca (angin dan awan), penggunaan perlengkapan, dan tingkat kemampuan penerbang.
Siapa saja yang dapat terbang? Siapa saja, lelaki atau perempuan. Umur tak menjadi masalah asal berkisar 14 s/d 60 tahun. Biasanya remaja yang belum berusia 18 harus berbekal ijin orang tua. Sehat jasmani dan rohani, tidak sedang mengidap penyakit jantung, epilepsy, atau ketidakmampuan fisik lainya. Berat tubuh minimal 50 kg, jika kurang dari 50 kg biasanya perlu beban tambahan. Untuk menjadi seorang penerbang paralayang tak harus menjadi seorang atlet yang kuat secara fisik. Namun pada awal latihan, memang diperlukan tenaga ekstra untuk naik dan turun bukit. Bagaimana akan menikmati terbang kalau kondisi badan tidak fit?

Awal Perkembangan
Olahraga paralayang mulai muncul pada awal tahun 80-an. Tidak jelas siapa yang mengawalinya. Namun proses terciptanya paralayang ini melewati sebuah proses yang cukup panjang dan diilhami oleh kegiatan gantolle dan terjun payung. Adalah Dr. Francis Rogallo yang pada tahun 1940 menciptakan sebuah layang-layang yang bentuknya kemudian menjadi cikal bakal gantolle yang sekarang ini ada.
Pierre Lemoigne termasuk orang yang punya andil, karena pada tahun 1960, ia menyempurnakan kembali bentuk parasut untuk terjun statik yang berbentuk bulat, menjadi parasut terjun yang dikenal sebagai parasut Para Commander (PC) yang mempunyai gerakan lebih baik dan dapat dikontrol dibanding parasut sebelumnya.
Kemajuan pesat terjadi saat terciptanya parasut terjun payung persegi dengan dua permukaan yang masing-masing dipisahkan oleh rongga-rongga yang disebut sel oleh Domina Jalbert dari Amerika. Parasut ciptaan Domina ini dikenal dengan nama Parafoil menggunakan sistem “Ram Air”. Parasut ini mengembang karena adanya lintasa udara yang terperangkap di dalam sel. Konsep “Ram Air” ini sebenarnya tak mengalami perubahan berarti hingga kini, namun tingkat penyempurnaan bentuknya begitu menakjubkan, sehingga bisa dibilang konsep inilah yang mengilhami secara langsung terciptanya olahraga paralayang.
Pada tahun 1978, beberapa peterjun Eropa mencatat sukses lepas landas dari sebuh lereng terjal menggunakan parasut yang disempurnakan ini. Tak lama kemudian peski Swiss menyusul dengan meluncur di lereng bersalju di Engadine dengan menggunakan parasut persegi yang serupa.
Berawal dari sinilah nampaknya olahraga paralayang yang di Perancis disebut Parapente. Selain nama-nama yang disebut sebelumnya, tiga anggota Parachute Club of Annemasse, Perancis, bisa dibilang mempunyai andil dalam pemasyarakatan olahraga paralayang Mieussy, di kawasan Pegunungan Pertuiset, antara Genevv dan Chamonix yaitu: Jean-Claude Betemps, Andre Bohn, dan Gerard Boson.
D Indonesia sendiri, paralayang baru mulai muncul awal tahun 1990 yang ditandai dengan terbentuknya Kelompok Paralayang MERAPI di Yogyakarta yang dimotori oleh Dudy Arief Wahyudi (alm), dan penulis. David A. Teak, Ferry Maskun, dan Daweris Taher termasuk para penerbang awal Indonesia. Beberapa pemula ini berlatih secara otodidak melalui manual-manual dan majalah-majalah paralayang. Setidaknya pernah tercatat sebanyak 1200 penerbang di Indonesia, namun yang kini aktif tak lebih dari sepertiganya.
Olahraga paralayang di Indonesia berada di bawah Pordirga Layang Gantung Indonesia (PLGI) yang berada dibawah naungan PB FASI. Sedang untuk organisasi internasionalnya, olahraga ini berada dibawah Commission Internationale du Vol Libre (CIVL) yang dibawah naungan FAI.
Tiga belas tahun sudah usia perkembangan olahraga paralayang di Indonesia. Grafik peminatnya makin naik dari hari ke hari meskipun perlahan. Melihat besarnya potensi yang dimiliki olahraga ini, optimis bahwa olahraga ini akan makin berkembang. Keasyikan dan tantangannya yang tak terbatas menjadi alasan kuat. Berani menerima tantangannya? Ayo bergabung dengan para “penunggang angin” lainnya, untuk mewujudkan impian terbang yang mengasyikkan! (Gendon Subandono)

Diterkam Thermal di Gunung Guntur


Banyak cara untuk bertualang. Kalau naik gunung? Sudah biasa. Kalau naik gunung lalu terbang dari lerengnya yang terjal dengan paralayang? Ini baru paduan petualangan yang mengasyikkan. Itulah yang dilakukan oleh sebelas penerbang yang tergabung dengan Tim Paralayang Boogie.

Ber-Landrover Ria
Setelah molor satu jam dari jadwal yang ditentukan, Hari jumat pukul 20.20 rombongan besar yang terdiri dari 23 orang meninggalkan Puncak, Bogor. Tiga landrover Boogie dan 4 mobil lainnya yang penuh dengan perlengkapan terbang, beriringan menderu di tengah kepadatan lalulintas jalur Puncak – Cipanas.
“ini kan akhir minggu panjang, pantesan aja padat merayap, mestinya kita berangkat lebih siang jadi nggak kena macet,” ungkap salah satu personil sedikit protes. Tetapi kemacetan ternyata nggak begitu lama, karena begitu lepas pasar Cipanas lalu lintas langsung cair. Rombongan kereta besi ini pun langsung menderu menuju Gunung Guntur yang terletak di Kabupaten Garut.
Baru sekitar jam 1.30 dini hari rombongan sampai di kawasan wisata Cipanas, Terogong, Garut. Lumayan juga pantat ngeglosor di atas jok landrover selama 5 jam lebih. Agar kondisi fisik tetap fit esok pagi, begitu sampai kamar hotel yang telah disediakan oleh Dinas Pariwisata Garut pasukan langsung merebahkan diri, istirahat. Tidur terasa hanya sekejap, belum sempat bermimpi indah pasukan harus bangun lagi dan siap untuk jalan.
”Mas sudah siang, katanya jam 5 pagi kita harus sudah begerak, ini udah jam setengah lima lebih,” ujar Rofiq sang penghubung porter yang bangun paling cepat. Saya yang jadi ketua rombongan pun langsung berdiri dan membangunkan pasukan yang masih nyenyak tidur. Nggak tega rasanya, tetapi sesuai jadwal rombongan harus mulai jalan pukul 5 pagi. “Wah mata masih sepet nih, baru aja ngegeletak sudah harus bangun lagi. Jadi nih kita naik Gunung Guntur?” ujar Erick si tukang potret dengan mata yang masih sayu.
Setengah jam kemudian semua sudah siap dengan perlengkapan masing-masing, tetapi Cuenk yang menjemput para porter belum datang juga padahal udah cukup lama. Baru pukul 5.30 rombongan porter yang terdiri dari sepuluh orang berasal dari Desa Warung Peuteuy sampai di hotel. Biar hemat waktu rombongan pun langsung cabut. Enam mobil yang penuh dengan ransel berisi peralatan terbang langsung bergerak ke kaki gunung Guntur melewati jalan tanah yang sempit dan berdebu. Jalan ini adalah jalan menuju ke arah lokasi penambangan pasir di kaki gunung Guntur.
Gunung Guntur adalah salah satu gunung api yang sedang tidur, terletak sekitar 10 km dari Kota Garut. Gunung Guntur yang mempunyai ketinggian 2290 m di atas permukaan laut memang sangat ideal buat lokasi terbang. Lerengnya sangat terjal bersudut kemiringan 2- s/d 45 derajat sangat aman untuk lepas landas. Apalagi sebagian lerengnya merupakan padang rumput dan ilalang. Rupa-rupanya batu-batuan bekas muntahan lahar yang meleleh dari bibir kawah ke lereng sebelah timur itu, meskipun sudah mulai lapuk namun belum mampu melebatkan tumbuhan batang keras di sini. Batuan yang menyebar merupakan potensi pembuat thermal yang dasyat. Inilah salah satu yang menjadi pilihan mengapa Gunung Guntur cocok bagi kami yang suka terbang.
Gunung Guntur biasa disebut pula dengan nama Gunung Bunder karena bentuknya. Di bawah puncaknya masih terdapat lubang kawah yang cukup dalam menganga, di beberapa bagian masih sering terlihat asap belerang yang mengepul tipis.

Maju Tiga Langah, Turun Satu Langkah
Puncak Gunung Guntur menguning keemasan tertimpa cahaya matahari pagi ketika kaki mulai melangkah meniti jalan setapak. Dengan perlengkapan masing-masing, penerbang, porter, dan tim pendukung yang total berjumlah 28 orang menuju ke sebuah lereng di puncak Gunung Guntur. Awal perjalanan sih oke-oke saja, tetapi setelah beberapa saat berjalan, jalan setapak yang sempit mulai terasa menanjak. Perlahan tetapi pasti, rombongan yang terdiri penerbang dan pendaki dari berbagai usia ini pun terus bergerak.
“Wah pemandangannya bagus ya, lihat dulu ah ,” ujar Om Johan sambil ambil napas panjang, meski umur sudah setengah abad, si Om yang brewokan ini tetap bersemangat untuk ikut serta. Peserta lain yang merasa penat ikut-ikutan pula dengan pura-pura melihat pemandangan. “Wah iya tuh bagus banget. Yang nampak dikejauhan itu Situ Bagendit,” Ujar David yang sering dipanggil Opa oleh teman-teman terbangnya.
Ilalang tampak menari-nari dihembus angin gunung. Siluet para penerbang dan kru darat tampak bergerak di antara daun-daun ilalang yang tumbuh di sepanjang lereng gunung Guntur yang botak. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. “Baru kali ini saya melihat pemandangan yang indah seperti ini, capek jadi hilang,” Celetuk Mas Inoel salah satu penerbang paralayang yang juga pilot Boing 747.
Kerikil lepas bekas muntahan lahar Guntur di sepanjang jalan cukup membuat sulit kaki, apalagi jalanan setapak makin menanjak aja. Setiap kaki menapak tiga langkah tak terasa selalu turun satu langkah. ”Kerikilnya membuat licin padahal sepatunya udah oke lho, ” ujar Dede anggota Tim paralayang Boogie yang termuda.
Saat melewati air terjun Citiis yang terletak di sisi kanan jalan setapak tampak banyak pendaki yang berkemah di sisi kanan kiri sungainya. Memang, buat pencinta alam di sekitar Garut, gunung ini menjadi salah satu tujuan pendakian yang cukup terkenal. Apalagi saat itu merupakan akhir minggu yang panjang yang bertepatan dengan hari Kemerdekaan RI.
“Wah ranselnya kok gede-gede banget mau kemana mas, mau kemah di atas ya, berapa lama?” tanya salah seorang pendaki yang berkemah di Air terjun Citiis. Salah satu dari kami kemudian sedikit menjelaskan tujuan bahwa kita akan terbang dengan paralayang dari gunung Guntur dan ransel gede yang kita bawa berisi parasut paralayang. “Terbang? Dengan parasut paralayang? Wah pasti asyik banget tuh…..ikutan dong mas,” ujar beberapa pendaki.
Saat kami sampai atas air terjun Citiis, puncak gunung masih tertutup kabut, angin juga masih berhembus lumayan kencang tetapi dari arah selatan. Kabut di sekitar puncak terlihat bergerak cepat tertiup angin menyisir lerengnya . “Paling-paling saat kita sampai atas kabutnya sudah hilang, jangan khawatir itu hanya sesaat!” ujar Opa David kepada anggota tim yang lain.

Pre-flight Check
Tak terasa dua jam sudah jalan setapak bekerikil dititi. Tepat pukul 9.00 rombongan anggota tim yang paling buncit sampai di sebuah punggungan yang terletak sekitar 30 menit jalan kaki dari Air Terjun Citiis. “Lumayan juga nih tanjakannya, apalagi bawa kamera segala,” ungkap Yudistira kameraman dari Metro Tivi yang ikut meliput.
Angin masih berhembus dari kanan lereng, kabut pun masih menutupi puncak. Sambil menunggu arah angin yang diinginkan dan kabut yang masih menggantung, saya dan Dedy naik ke lereng yang lebih tinggi untuk mencari tempat terbaik untuk lepas landas. “Di atas punggungan itu mungkin bagus Ded, cuma agak jauh lagi jalannya, kalau anginnya berubah dari depan tempatnya yang tadi kayaknya yang terbaik, ”teriak saya ke arah Dedy yang udah berjalan duluan.
Benar, baru berjalan 150 meter dari lokasi tim berhenti, angin mulai berubah arah persis dari depan lereng, cuma kecepatannya masih belum stabil. Windshock Boogie berwarna kuning yang dipasang di potongan ranting tampak bergoyang-goyang naik turun. Dari kejauhan David berteriak dan memberi tanda jempol yang menandakan arah sudah oke,
”Di sini aja get, udah bagus kok tinggal nunggu kecepatannya stabil,” teriak David dari atas batu besar berwarna hitam pekat itu. Tim segera berkumpul untuk upacara pembukaan. Berdiri melingkar di lereng terjal kita berdoa bersama-sama, ini tradisi para penerbang paralayang sebelum melakukan kegiatannya. Selesai berdoa, serempak anggota tim melakukan toast, dengan menyatukan tangan dan kemudian menghentakkan ke bawah bersama-sama seraya berteriak, “bravo paralayang.”
Ransel berisi perlengkapan terbang langsung dibuka. Helmet, harness, parasut, dan aksesoris terbang lainnya dikeluarkan. Sebelas penerbang langsung melakukan pemeriksaan perlengkapan sebelum terbang. Kru darat yang menyertai membantu seperlunya. Pre flight ini wajib hukumnya. Kesalahan sedikit di darat dapat menyebabkan masalah besar saat penerbang di angkasa, karenanya pemeriksaan ini harus dilakuan secara seksama dan hati-hati oleh setiap penerbang. “Talinya diperiksa tuh, banyak semak dan rumput, takut entar membelit,” ujar Idon kepada Kunun dan Anto yang baru pertama kali terbang dari ketinggian.

Diterkam Thermal.
Arah dan kecepatan angin sudah oke. Rumput dan ilalang yang berwarna kuning keemasan bergerak-gerak di tiup angin lembah. Seperti biasanya, untuk awalan selalu ada penerbang dummy yang terbang duluan untuk mencoba angin. Tak mudah tugas sebagai dummy, oleh karenanya seorang dummy biasanya orang yang sudah cukup berpengalaman dan tentu saja juga siap berkorban.
Harus berpengalaman, karena kondisi angin bisa saja “galak” dan saat itu dia harus mampu mengatasi kesulitan yang mungkin saja muncul. Siap berkorban, karena kadang-kadang kondisi angin justru belum bagus, sehingga penerbang dummy hanya terbang lurus dan langsung melayang turun. Setelah bersusah payah naik gunung, siapa yang mau hanya terbang singkat?
Setelah tengok sana sini, akhirnya ada juga yang merelakan diri jadi dummy. “Oke, saya siap jadi dummy,” ujar Dedy yang tinggal di Bandung. Parasut Bonanza berwarna pink yang bakal digunakan Dedy segera dibuka dan digelar. Setelah helmet dan harness dikenakan dan melakukan pre flight check, riser kemudian ditarik. Hanya dengan satu satu hentakan parasut langsung memerangkap angin dan menggembung, tak lama parasut buatan Korea ini pun terangkat ke atas kepala Dedy. Beberapa langkah menuruni lereng, parasut langsung melayang ke angkasa. Kini kedua kaki Dedy sudah tak menapak tanah, terbang.
“Horeeeeeee…….,” teriak yang lain sambil bertepuk tangan ketika menyaksikan Dedy lepas landas dengan empuk. Tetapi sayang meski sudah berusaha semaksimal mungkin ternyata Dedy tak dapat bertahan lama, angin yang berhembus tak mampu mengangkat parasut. Padahal saat mendekati rimbunan pohon cemara di atas tempat pendaratan Dedy sempat mendapat thermal dan berputar-putar, tetapi itu pun tak mampu mengangkat Dedy dan akhirnya mendarat setelah sekitar 20 menit melayang.
Matahari sudah mulai menyengat. Bebatuan bekas muntahan lahar membuat Guntur nampak makin liar. Beberapa saat kemudian giliran Andreas yang terbang, beruntung saat Andreas terbang angin sudah mulai bagus, buktinya begitu lepas landas Andreas langsung terangkat ke atas dan lebih tinggi dari lokasi lepas landas yang berada diketinggian 1500 meteran di atas permukaan laut.
Melihat Andreas terbang tinggi, yang lain langsung bersiap-siap. Dede yang menggunakan parasut “Medco” mengambil posisi terdepan. Menjelang Dede lepas landas angin sih biasan-biasa saja, tetapi begitu lepas landas tiba-tiba angin berhembus kencang. Dede terangkat ke atas dengan kecepatan lebih dari 5 meter/detik.
Tiba-tiba parasut Dede kolaps sayap kirinya. Mengembang lagi, gantian kanan yang kolaps separuh. Dede langsung menarik tali kemudi kiri untuk mengimbangi agar arahnya tetap lurus, berhasil. Tetapi goncangan parasut Dede di dalam arus angin naik ini tak langsung berhenti. Angin yang bertambah kencang membuat parasutnya tak bisa maju, malah sempat mundur. Kejadian tak terduga ini sempat membuat penerbang yang masih di darat jadi kecut. Suasana sempat hening, saat Dede “diterkam” thermal gunung guntur yang buas. Tampaknya thermal keras yang muncul mendadak itu adalah thermal yang sudah matang, lalu dipicu sendiri oleh gerakan Dede jadilah thermal keras.
Untung saja, meski masih yunior dari segi umur - baru 16 tahun, Dede sudah punya pengalaman terbang yang lumayan banyak. “Aku ngeri juga dan deg-degan lho saat parasut kolaps dan terbang mundur. Sempat takut, sebenarnya mau minta tolong, tetapi di atas minta tolong ke siapa?” ungkap Dede setelah mendarat. Benar kata, Dede saat seorang penerbang paralayang terbang, nasibnya berada ditangannya sendiri. Tak ada yang mampu menolong jika terjadi sesuatu di atas sana. Ketenangan mental dan ketrampilan teknis benar-benar dibutuhkan dalam olahraga ini .
Lega rasanya setelah melihat Dede kemudian dapat menguasai diri. Setelah menginjak akselerator yang berfungsi merubah sudut parasut serang agar menjadi lebih kencang, ia pun menghindar dan menjauh dari lereng dan mendekat ke arah Andreas yang terbang membubung di arah kanan lokasi lepas landas.

Warna-Warni di Atas Langit Biru
Setelah menunggu beberapa saat penerbang yang lain menyiapkan perlengkapan. Johan, Inoel, Erland, Wien Suhardjo secara berurutan terbang. Masing-masing lepas landas dengan aman, kecualI Inoel yang sempat kolaps di detik-detik awal penerbangannya. “Wah iya kerasa kolaps, aku ke bawa ke kanan, tetapi setelah diantisipasi langsung mengembang lagi,” ujarnya.
Langit biru di atas Gunung Guntur jadi meriah dihiasai parasut warna-warni, nggak mau kalah dengan hiasan 17 agustusan di jalan-jalan. Memang kegiatan penerbangan ini dilakukan tepat tanggal 17 Agustus tahun lalu. Disamping ikut memeriahkan 17-an sekaligus mengisi week end panjang.
“Kita pengin punya kegiatan yang lain dari pada yang lain untuk memperingati hari kemerdekaan, makanya kita adakan acara terbang di Gunung Guntur ini,” ungkap Anas Ridwan dari Boogie yang mendukung langsung kegiatan ini.
Angin sudah mulai stabil, thermal yang muncul sudah cukup lembut, tak kasar lagi seperti pada awal-awal pembentukkannya. Panas mulai menyengat padahal waktu itu jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Kunun dan Anto mendapat giliran setelah kondisi angin dianggap stabil, maklum dua orang ini paling minim pengalaman terbangnya di gunung seperti Guntur ini.
“Ayo siap-siap, mumpung angin masih bagus nih, kalau kesiangan takutnya tambah galak,” ujar Idon yang kemudian ikut membantu persiapan Kunun dan Anto.
Dengan teknik lepas landas alpine Kunun dan Anto berurutan menyusul penerbang-penerbang yang udah terbang duluan. Lewat radio Idon memberi komando agar kedua penerbang ini berhati-hati, “tetap jaga presure parasut dan jaga tetap di atas kepala. Kalau parasut ke depan, tarik togel sedikit, kalau parasut kebelakang angkat. Coba kalau denger goyang kaki,”. Dari kejauhan Kunun dan Anto tampak menggoyangkan kaki sesuai komando yang berarti komunikasi berjalan lancar.
Langit biru makin ramai. Terdengat teriakan-teriakan samar-samar dari arah Air terjun Citiis saat Wien dan Erlan terbang diatas para pekemah yang sedang asyik nongkrong dipinggir sungai kecil disebelah kiri lokasi lepas landas.
Beberapa penerbang membuat manuver berputar-putar untuk menangkap thermal. Dengan berpuitar 360 derajat itu para penerbang berusaha berada di dalam di pusat thermal agar dapat naik maksimum dan terbang makin tinggi. “Parasutku hampir kolaps, untung cepat aku kendalikan. Aku juga sempat terayun-ayun sehingga parasutku bergerak ke depan. Kalau nggak dikontrol bisa front tuck, gawat tuh,” ungkap Wien Suhardjo yang terbang pakai parasut berlogo Boogie.
Lain lagi dengan Erlan yang terbang dengan parasut bertuliskan Desslo, “ Wah asyik banget meskipun thermalnya agak kasar. Terbang ke depan malah naik terus, ya udah aku berputar aja agar tetap di dalam angin naik itu, “ ungkap Erlan yang berasal dari Sukabumi itu.
“Ini pertama kali saya terbang tinggi dan lama. Sempat ngeri juga lho habis tinggi banget, apalagi waktu dimainin thermal yang agak kasar jadi rindu tanah deh,” cerita Anto yang baru membukukan jumlah terbang ke 30 kali.

Makin Siang makin Hot
Makin siang kondisi udara makin hot. Langit biru kini dihiasai awan-awan cumulus yang berarakan. Kota Garut tampak dikejauhan. Kawasan wisata Terogong Cipanas tempat tim menginap terlihat jelas di kanan bawah. Di lokasi lepas landas tinggal 3 penerbang lagi dan kru darat. “Angin di bawah cukup kencang arah dari Selatan,” info Dedy dari lokasi pendaratan lewat handy talkie.
“Ayo kita siap-siap, kalau bisa terbang bersama-sama dan berdekatan,” ujar saya ke Idon, dan Opa David yang langsung menyiapkan parasut masing-masing. Saya berada paling depan, giliran berikutnya Opa yang akan tandem dengan Erik, dan yang terbang paling akhir adalah Idon Ramadhan.
Dengan satu hentakkan parasut Apco Allegra berwarna merah langsung mengembang sempurna. Saya periksa apakah parasut mengembang sempurna atau tidak, saya juga periksa apakah tali-tali ada yang membelit? Setelah pasti oke, langkah saya lanjutkan, hanya dengan dua langkah parasut melayang dan langsung membubung tinggi. Inilah saat-saat yang paling dramatis yang paling saya suka, yaitu detik-detik awal saat kaki lepas dari tanah untuk melayang. Bayangkan saja, kita tidak punya sayap tetapi mampu terbang seperti burung.
Udara makin panas, thermal juga makin kasar. Hanya dalam beberapa menit terbang saya langsung membubung tinggi hampir sejajar dengan puncak gunung Guntur. Saya berputar-putar untuk tetap mempertahankan ketinggian. Dari atas sana, pemandangan nampak sangat elok. Bekas lelehan lahar tampak seperti ular yang menggeliat dengan ujung lelehan persis di kaki bukit mengarah ke kawasan wisata Terogong, Cipanas, Garut.
Goyangan parasut terasa kasar, beberapa kali ujung parasut kolaps. Secara reflek tangan yang memegang tali kemudi langsung mengantisipasinya agar parasut tetap mengembang. Terbang dalam kondisi seperti ini, penerbang harus selalu aktif agar parasut tetap terjaga stabil di atas kepala kita. Dari ketinggian saya tengok lokasi lepas landas, tampak David dan Erik bersiap-siap untuk lepas landas, di belakangnya berdiri Idon yang menggunakan parasut warna pink.
Tak berapa lama, parasut tandem berwarna merah yang dikemudikan David langsung membubung setelah lepas landas. Erik si tukang foto yang jadi penumpang berteriak kegirangan saat kaki lepas dari tanah. “Oeee..aku terbang..” teriak Erik dengan dua buah kamera yang mengantung dilehernya.
Idon menyusul terbang, saat ketinggian saya dan David hampir sama. Meski terbang belakangan justru Idon lah yang lebih beruntung mendapatkan thermal yang cukup besar, karena begitu lepas landas ia langsung melejit ke angkasa dengan berputar-putar 360 derajat agar dapat naik vertikal sambil memanfaatkan angin naik, ”Cepat banget naikknya, tahu-tahu udah di atas puncak Gunung Guntur,” cerita Idon.
Kondisi udara memang sulit diprediksi, berbeda waktu lima menit saja kondisi udara bisa sangat berbeda, bisa membaik atau malah memburuk. Kalau membaik yah tentu saja oke, tetapi kalau memburuk ya terpaksa harus menunggu lebih lama lagi, tetapi inilah olahraga paralayang yang sangat tergantung dengan alam.
Terbang di angkasa memang mengasyikkan, tetapi terbang tentu ada batasnya. Saat kehabisan angin atau badan sudah lelah, saatnya penerbang menuju ke tempat pendaratan. Sebagian besar penerbang yang ikutan kali ini, baru pertama kalinya terbang dari Gunung Guntur sehingga di mana harus mendarat menjadi sebuah pengalaman baru dan bagi mereka.
Target pendaratan utama adalah kompleks penambangan pasir yang nampak jelas dari lokasi lepas landas. Dari puncak gunung, tempat pendaratan itu seperti dataran yang luas, padahal sebetulnya banyak gundukan-gundukan pasir dan kerikil yang siap diangkut serta lubang-lubang bekas galian.Satu persatu para penerbang itu pun mendarat dengan empuk di antara gundukan-gundukan tersebut. Lengkap sudah petualangan mendaki sekaligus terbang, begitu kaki menjejak tanah. Senyum lega dan rasa puas terpancar di wajah para penerbang itu. Saya pun lalu terkenang kembali saat pertama kali terbang dari puncak gunung ini sepuluh tahun yang lalu, dan kenangan itu pun kini bertambah kembali. Kami harus kembali lagi esok! Bravo Paralayang!! (Gendon Subandono, Foto: Eriek/Boogie)

Pengalamanku di Awal Perkembangan Paralayang




Sebuah Catatan Yang Terlupakan:

Keinginanku untuk terbang atau terjun sebenarnya sudah lama sekali. Sudah sejak SD aku sudah sering lihat orang terjun, makanya aku juga sangat ingin merasakan serunya terjun dari sebuah pesawat. Maklum masa kecilku smapai aku lulus SMA lebih banyak aku habiskan di Kota Magelang yang dulu terkenal sebagai pusatnya pendidikan tentara. Aku sendiri juga anak kolong, bapakku seorang perwira kesehatan di Batalyon Zipur IV Magelang. Jadi namanya kehidupan tentara, memang mersakan banget, apalagi aku selalu bertempat tinggal di kompleks tentara. Meskipun bapakku tentara ternyata aku sama sekali tak kepincut untuk jadi tentara.

Saat kuliah di UGM sebenarnya ada kesempatan untuk ikutan terjun, cuma jalurnya yang lebih mudah kalau jadi anggota Resimen Mahasiswa. Ah susah juga bagiku karena aku bukan anggotanya, dan terus terang aku juga tidak mau jadi anggotanya. Aku lebih suka jadi anggota kelompok pencinta alam Kapalasastra di Fakultasku dan Mapagama unit pencinta alam di tingkat universitas dari pada jadi menwa. Rasanya memang lebih merdeka. Jalan naik gunung atau nerobos hutan dan nggak harus pakai seragam! Bukannya aku tak suka disiplin.

Yo wis ora sido melu terjun. Akhirnya bisanya cuma nonton, kalau ada orang yang terjun. Di kampus UGM, di lapangan Pancasila kadang-kadang memang digunakan sebagai LZ-nya. Terutama saat ada upacara penerimaan mahasiswa baru. Jadi cukuplah hanya melihat teman-teman dari unit terjun. Aku ada kenalan juga yang suka terjun seperti Ade dan Kisworo yang kuliah di Sospol.

Nyoba Gantolle? Asyik juga kelihatannya, ada teman dari Jurusan Antropologi yang ikutan terbang, cewek, namanya Nina kalau nggak salah. Dia ngeliatin foto-foto saat latihan di Parangtrittis dan Piyungan. Aku sangat tertarik sebetulnya, ada beberapa teman lain yang juga sudah ikutan seperti Reza dari fakultas Sospol. Cuma kayaknya kok susah mau jadi anggotanya. Apalagi kalau mau latihan juga harus iuran dengan besaran tertentu, yang aku terus terang tak mampu bayar, bukan karena mahal, tetapi aku memang tak pernah punya uang banyak. Maklum saat kuliah uang sakuku terbatas. Maklum aku hanyalah seorang anak janda yang harus menanggung 6 orang anak yang harus sekolah semua. Jadi aku harus tahu diri dong. Akhirnya gantolle hanya jadi impian saja buatku, padahal waktu itu gantolle memang lagi seru-serunya. Ikutan PON lagi……

Akhir Desember 1989, Dudy (alm) bercerita dapat pinjeman parasut parapente dari Lody. Aku tahu Lody, cuma nggak begitu kenal. Tentang parapente sendiri aku masih awam sekali, bagaimana cara terbangnya atau mengendalikannya aku sama sekali belum tahu. Tetapi tentang olahraga ini sendiri pada tahun 1988 atau 1989 di TVRI aku pernah lihat beritanya. Effendi Soen yang jadi reporternya waktu itu. Effendi Soen ini juga yang menyebut parapente dengan sebutan terjun gunung di Majalah Hai, aku lupa nomor dan tahun penerbitannya. Di majalah ini Effendi Soen pernah menulis pengalamannya saat terbang tandem bersama seorang penerbang tandem di Chamonix, Perancis.

Kembali ke cerita Dudy, aku langsung bilang ya saat ia mengajakku mencoba latihan bersama. “Ayo Don latihan parapente (baca: parapong), aku disilihi parasut karo Lody,” kata Dudy waktu itu. Dudy memang cukup akrab denganku, berbagai aktifitas aku lalui bersama, baik di kelompok pencinta alam, hoki, atau kegiatan lainnya aku sangat sering bersamanya. Jadi wajar ketika dia punya mainan baru aku yang pertamakali diajaknya. Di tempat kost Dudy di Jalan Timor Timur, Jl. Kaliurang KM 7, ia menunjukkan parasutnya dan manual parasut yang sangat sederhana itu. Juga ada satu buah majalah berbahasa Perancis Parapente edisi perdana yang penuh gambar yang ditunjukkannya. Majalah ini didapat dari teman perancis Dudy yang hoby masuk gua….Cuma aku lupa siapa namanya…..

Melalui gambar-gambar dan manual itulah kita berdua mendapatkan “ilmu terbang” dan mempraktekkan langsung bagaimana caranya mengembangkan parasut. Aku masih ingat, saat ia bercerita saat mencoba untuk mengembangkan parasut Drakkar buatan tahun 1987 di lapangan Mbebeng, Kaliurang pada tanggal 1 Januari 1990. Aku nggak ikutan waktu itu karena harus pulang ke Magelang dan ada urusan keluarga.

Pertamakali aku mencoba adalah di lapangan lembah di sebelah timur kampus UGM bersama Dudy. Cuma susah karena anginnya nggak begitu stabil dan tempatnya di sebuah lembah yang dikelilingi lereng dan pohon-pohon. Tekniknya juga masih ngaco. Ya maklum saja, manualnya hanya dibaca selintas, dan tak ada yang tahu mana teknik yang benar yang harus dilakukan.

Di awal minggu di bulan Januari tahun 1990 itu kita pergi berdua ke Parangtritis naik motor bebek. Dudy di depan aku mbonceng di belakangnya sambil menggendong ransel merah yang berisi parasut. Sampai di Parangkusumo, di pantai yang agak sepi di sebelah barat Parangtritis, kita langsung ground handling. Anginnya lumayan, nggak begitu kencang untuk seorang pemula memulai mengembangkan parasut. Kecepatannya sekitar 10-15 km jam. Bergantian kita mencoba mengembangkan parasut Drakkar yang bentuknya seperti parasut terjun payung. Sel-selnya lebar dan jumlahnya sekitar dua belas.

Rasanya senang sekali saat parasut bisa mengembang di atas kepala, kalau aku yang lagi pegang parasut Dudy yang jadi angker dan sebaliknya. Di pantai ini ada lereng pendek dan drop sekitar 1-1,5 meter. Kita saling dorong untuk mencoba lepas landas. Saat dua kaki lepas dari tanah, meski hanya sesaat girangnya setengah mati. Kadang-kadang kita adu lama-lamaan agar parasut tetap di atas kepala, sementara kaki tetap menjejak tanah. Sambil maju, mundur, geser kiri, atau kanan kita berusaha mempertahankan parasut. Dengan kepala dibalut bandana kita seolah-olah udah jadi penerbang yang handal, padahal yang dilakukan masih merupakan tahapan paling dasar, ground handling.

Tak terhitung berapa kali kita groundhandling seperti ini di Parangtritis. Sampai beberapa kali kesempatan, kita masih saja berkutat dengan kegiatan groundhandling, dan sama sekali belum bisa merasakan terbang tinggi, sampai ketika musibah menimpa Dudy saat berlatih di lapangan Lembah. Gara-garanya mendarat keras saat parasutnya ditarik motor dengan tali sekitar 20 meter. Angin yang berhembus keras memaksa penarik melepas talinya dari motor dan menyebabkan Dudy pendulum di ketinggian yang rendah. Ke dua ankle Dudy retak dan harus di gips saat kembali dari RS Panti Rapih. Aku mendengar kejadian ini saat ke kampus, sepulang dari tempat obyekan di Keraton dari Rudi Gopal, salah satu anggota pencinta alam Fakultas Sastra UGM, Kapalasastra..

Gara-gara kejadian ini Dudy harus istirahat untuk waktu yang cukup lama. Meski tinggal aku sendirian yang latihan, tetapi untunglah teman-temanku banyak yang mau menemani. Pun-pun, Basyir, Dodong, Ade dan Kisworo bergantian menemani ke Paris alias Parang Tritis.

Bukit 15 Meter
Sekarang latihanku pindah ke sisi timur parangtritis di balik warung-warung di boulevard utama parangtirits. Di situ ada bukit pasir setinggi 15 meteran. Tempat ini serign juga dipakai oleh teman-teman gantole dari Klub Gegana Yogyakarta untuk latihan sebelum terbang dari bukit yang lebih tinggi.

Di bukit inilah aku merasakan terbang beneran meskipun hanya untuk beberapa saat. Nggak terhitung berapa kali, aku naik turun bukit ini untuk belajar lepas landas. Saat angin kecil kadang-kadang susah terbang, tetapi saat angin kencang aku sampai terseret-seret. Pohon berduri yang tumbuh disekitar sudah jadi santapan sehari-sehari saat itu.

Tak puas dengan bukit, aku juga mencoba untuk towing di sepanjang pantai parangtritis. Dengan tali static 100 meter pinjaman dari salah satu klub pencinta alam di Yogya itu, aku ditarik dibelakang mobil jimny punya Pun Pun. Aku pikir aku memang nekat pada waktu itu, teknik towingnya benar-benar “ngawur”, tidak pakai pelepas atau release tetapi ujung-ujungnya langsung diikat.

Saat pertama di towing, aku sendiri sangat kaget saat parasut mengembang dan mobil mulai berjalan kencang, karena tiba-tiba aku seperti ditarik menjauh dari bumi, sementara parasut masih berada di belakang badan. Kalau perlahan mungkin tidak menjadi masalah, tetapi karena kencang itulah yang membuat rasanya jadi nggak karuan.

Rasanya sangat lega saat mobil mulai melambat dan parasut mulai tepat di atas kepala dan turun perlahan. Sekarang aku melayang dengan dan turun perlahan dengan parasut drakkar. Tali towing yang dipakai menarik masih tetap menempel di harnesku. Jadi saat itu aku terbang dengan menggendong tali yang panjangnya 100 meter. Kalau ingat saat itu terus terang aku jadi takut karena ternyata apa yang aku lakukan saat itu hanya bermodal nekat. Tetapi kalau tidak begini kapan lagi aku memulai?

Dari beberapa uji coba dan latihan yang berulangkali aku lakukan, aku pun jadi lebih paham bagaimana harus melakukan teknik-teknik untuk terbang dengan parasut parapente ini dengan benar dan aman. Meskipun sebenarnya masih belum bisa dikatakan sempurna, karena memang pada saat itu perkembangan parapente atau parapong masih bayi..bahkan di belahan eropah sana…..

Pantai Parangtritis memang indah dan ia pun menyimpan sejarah sebagai salah satu lokasi awal perkembangan terjun gunung atau yang sekarang lebih dikenal paralayang, karena mulai dari sinilah olahraga ini berkembang dan merambah tempat-tempat lain di Indonesia. (*)